Cari Blog Ini

Memuat...

20100730

PERKEMBANGAN MEDIA MASSA DI INDONESIA


Media massa atau Pers adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.

Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada sumber/ ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu.

Jenis-jenis media massa:

·         Media massa tradisional

Media massa tradisional adalah media massa dengan otoritas dan memiliki organisasi yang jelas sebagai media massa dimana terdapat ciri-ciri seperti:

1.                   Informasi dari lingkungan diseleksi, diterjemahkan dan didistribusikan

2.                   Media massa menjadi perantara dan mengirim informasinya melalui saluran tertentu.

3.                   Penerima pesan tidak pasif dan merupakan bagian dari masyarakat dan menyeleksi informasi yang mereka terima.

4.                   Interaksi antara sumber berita dan penerima sedikit.

Macam-macam media massa tradisional

·                      surat kabar

·                      majalah

·                      radio

·                      televisi

·                      film (layar lebar).

  • Media massa modern

Seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial budaya, telah berkembang media-media lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular.

Media massa yang lebih modern ini memiliki ciri-ciri seperti:

1.                   Sumber dapat mentransmisikan pesannya kepada banyak penerima (melalui SMS atau internet misalnya)

2.                   Isi pesan tidak hanya disediakan oleh lembaga atau organisasi namun juga oleh individual

3.                   Tidak ada perantara, interaksi terjadi pada individu

4.                   Komunikasi mengalir (berlangsung) ke dalam

5.                   Penerima yang menentukan waktu interaksi

Everett M. Rogers dalam bukunya Communication Technology; The New Media in Society (dalam Mulyana, 1999), mengatakan bahwa dalam hubungan komunikasi di masyarakat, dikenal empat era komunikasi yaitu era tulis, era media cetak, era media telekomunikasi dan era media komunikasi interaktif. Dalam era terakhir media komunikasi interaktif dikenal media komputer, videotext dan teletext, teleconferencing, TV kabel dan sebagainya.

Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timur, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.


Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.


Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi. Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih.

Setelah Orde Baru semakin mengkonsolidasikan pembangunan di berbagai bidang kehidupan masyarakat, maka di bidang pembinaan pers juga semakin ditata secara lebih mantap dengan dihasilkannya undang-undang Nomor 21 Tahun 1982 yang merupakan penyempurnaan dan perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers, sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967.


Sebagai penajabarn lebih lanjut dikeluarkan pula Peraturan Menteri Penerangan RI Nomor 01/Per Menpen/1984 tentang Surat usaha izin Usaha Penerbitan Pers(SIUPP) sebagai peraturan pelaksanaan Undang-undang tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers tersebut. Berbagai upaya melengkapi peraturan ini sebagai dasar pembinaan dan penataan pers nasional masih berlanjut sampai saat ini.


Gambaran umum dari pertumbuhan dan perkembangan Pers Nasional dapat diketahui antara lain dari perkembangan jumlah penerbitan pers, tiras penerbitan pers yang semakin meningkat pula baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Demikian pula pemilikan percetakan pers oleh para penerbit surat kabar telah semakin meningkat jumlahnya.


Bila pada awal Pelita V jumlah penerbitan pers sebanyak 263, maka pada tahun 1995 sudah mencapai sebanyak 287. Seluruh propinsi telah memiliki penerbitan pers dan hanya tiga propinsi yaitu propinsi Bengkulu, Nusa Tenggara dan Sulawesi Tenggara yang belum mempunyai surat kabar harian. Namun demikian Bengkulu dan Nusa Tenggara Barat telah mengadakan uji coba untuk menerbitkan surat kabar harian dan secara prinsip telah memungkinkan tumbuhnya masing-masing surat kabar harian tersebut.


Tiras penerbtan pers bila pada awal Pelita V berjumlah 10.783.009 eksemplar setiap kali terbit, pada akhir Pelita V menjadi 12.730.721 eksemplar.


Dalam rangka meningkatkan peranan pers nasional dalam pembangunan, diperlukan dukungan sumber daya manusia yang handal, yang didukung oleh peralatan canggih yang sesuai perkembangan teknologi khususnya teknologi komunikasi.


Untuk dapat mengimbangi dinamika dan tuntutan pembangunan maupun dinamika masyarakat serta meningkatnya kualitas kebutuhan dan tuntutan masyarakat, pers harus terus meningkatkan kualitas profesionalisme sumber daya manusia wartawannya. Dalam hubungan ini program pendidikan dan pelatihan wartawan dan karyawan pers lainnya telah dilakukan secara terus-menerus dengan harapan mampu memenuhi peningkatan kebutuhan sumber daya manusia bagi penerbitan-penerbitan pers di masa yang akan datang. 


Jumlah sumber daya manusia/wartawan yang memiliki wawasan serta pendidikan tinggi terus bertambah. Ini merupakan salah satu ciri dari transformasi yang sedang dijalani pers Indonesia. Data terakhir menunjukkan, jumlah wartawan media cetak dan media elektronik, sebanyak 7.141 orang. Sedingkan khusus media bcetak berjumlah 6.287 orang. Dari jumlah tersebut 4.062 orang(64.04 persen) adalah mereka yang berlatarbelakang pendidikan tinggi.


Dalam rangka meningkatkan arus informasi ke pedesaan, mulai tahun pertama Pelita III diadakan proyek "Koran Masuk Desa" (KMD) yang berupa subsidi kepada penerbitan-penerbitan pers daerah untuk menerbitkan KMD. Subsidi tersebut bertujuan untuk mendoong penerbitan pers nasional di daerah untuk mengembangkan diri dan memperluas jangkauannya sehingga mempercepat pemerataan informasi di daerah-daerah KMD yang pada awalnya mengikutsertakan 34 penerbit pers daerah di 13 propinsi, kemudian mulai tahun 1984 telah mengikutkan 50 penerbit pers di 26 propinsi. Ini berarti seluruh propinsi di Indonesia telah diikutsertakan dalam program KMD kecuali Daerah Khusus lbukota Jakarta. Sampai dengan tahun 1994/1995 meningkat menjadi 59 penerbitan KMD, dan 9 di antaranya menjadi pelaksana mandiri tanpa subsidi dari pemerintah.


Jumlah tiras KMD pada tahun anggaran 1993/1994 berdasar realita berjumlah sebesar 39.798.158 eksemplar, sedangkan target tiras sesuai perjanjian yakni sebesar 8.400.000 eksemplar, berarti terdapat kenaikan yang sangat tinggi.


Untuk memberikan motivasi terhadap pembangunan masyarakat pedesaan, Dewan Pers dalam sidang pleno tahun 1993 memutuskan mengganti istilah "Koran Masuk Desa" menjadi "Koran Membangun Desa".


PEMBANGUNAN di bidang teknologi komunikasi dan informasi telah memacu pertumbuhan dan perkembangan media elektronika radio, televisi dan film dengan sangat pesat dalam menyebarluaskan dan memeratakan informasi kepada masyarakat.


Pada awal Repelita I Radio Republik Indonesia (RRI) memiliki 46 buah stasiun panyiaran dengan jumlah stasiun pemancar 107 buah, kekuatan pemancar seluruhnya 810 kilowatt dan jumlah jam siaran rata-rata setiap stasiun 7,4 jam per hari. Pada akhir Repelita V, RRI memiliki 49 buah stasiun penyiaran dengan 414 buah unit stasiun pemancar, kekuatan pemancar seluruhnya sebesar 3.106,6 kilowatt, dan jam siaran rata-rata setiap stasiun 21,0 jam perhari. Selain RRI terdapat juga radio siaran non RRI sebanyak 670 stasiun penyiaran yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. Untuk program siaran RRI yang ditujukan keluar negeri menggunakan 10 bahasa pengantar yaitu bahasa lnggris, Perancis, Spanyol, Arab, Mandarin, Melayu, Jepang, Jerman, Thai dan Indonesia, dengan jumlah siaran 12 jam per hari. 


Dalam rangka kerjasama internasional, dilanjutkan berbagai kegiatan yang antara lain mencakup tukar-menukar paket siaran antar negara-negara Asean, yang dimulai sejak tahun 1978 dan kerjasama dengan Asia Pasific Broadcasting Union(ABU) yang dimulai sejak tahun 1983 serta berbagai organisasi Internasional lainnya.


Pada tahun 1969, yang juga merupakan tahun awal Repelita I. Televisi Republik Indonesia (TVRI) memiliki 2 buah stasiun penyiaran dengan 7 buah pemancar yang keseluruhannya berkekutan sekitar 48 kilowatt dan menjangkau sekitar 22 juta orang dengan jumlah jam siaran setiap stasiunnya rata-rata 4 jam per hari. Pada akhir Repelita V TVRI memiliki 12 stasiun penyiaran, tujuh Stasiun Produksi Keliling (SPK) dan 343 stasiun pemancar penghubung dengan kekuatan pemancar 348,7 KW, dengan kemampuan jangkauan 41,36 persen wilayah Nusantara dan 153 juta orang atau 79,20 Persen dari jumlah penduduk dengan jumlah siaran 11,7 jam per hari.


Untuk menyiapkan masyarakat menghadapi perkembangan teknologi komunikasi di masa depan, pemerintah telah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memanfaatkan antena parabola, sehingga masyarakat dapat menikmati siaran berbagai stasiun penyiaran.


Pada akhir Repelita V upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi juga didukung oleh lembaga penyiaran televisi swasta. Sampai awal Repelita VI telah beroperasi 5 (lima) televisi swasta yang sebagian telah mengembangkan jangkauan siaranya ke beberapa wilayah Indonesia. Dalam kaitan perkembangan ini pula lembaga penyiaran asing telah menyelenggarakan siarannya secara transnasional yang dapat menjangkau sebagian wilayah Indonesia (contoh: Star TV).

Tetapi pada masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembreidelan media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Indepen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara.

Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi.

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan media massa di Indonesia cukup menakjubkan. Data yang ada, seperti dikutip Sendjaja (2000), menunjukkan kondisi sebagai berikut:

1. Di bidang pertelevisian, selain jaringan TVRI saat terdapat 10 (sepuluh) stasiun televisi swasta, yaitu RCTI, TPI, SCTV, ANTEVE, INDOSIAR, METRO TV, TRANSTV, LATIVI, GLOBAL TV, DAN TV 7. Di samping itu kini telah beroperasi 7 televisi berlangganan satelit, 6 televisi berlangganan terrestrial, dan 17 televisi berlangganan kabel.

2. Dunia penyiaran radio pun mengalami kemajuan meskipun tidak sepesat televisi. Hingga akhir tahun 2002, terdapat 1188 Stasiun Siaran Radio di Indonesia. Jumlah itu terdiri atas 56 stasiun RRI dan 1132 buah Stasiun Radio Swasta.

3. Perkembangan industri dan bisnis penyiaran ini tampaknya telah mendorong tumbuh pesatnya bisnis ‘Rumah Produksi’ (Production House/PH). Sebelum krisis ekonomi, tercatat ada 298 buah perusahaan PH yang beroperasi di mana sekitar 80% di antaranya berada di Jakarta. Pada saat krisis, khususnya antara tahun 1997-1999, jumlah PH yang beroperasi menurun drastis sampai sekitar 60%. Dalam satu tahun terakhir (2003), bisnis PH secara perlahan kembali bangkit yang antara lain didorong oleh peningkatan jumlah Televisi Swasta. Kebutuhan TV Swasta akan berbagai acara siaran, mulai acara hiburan sampai acara informasi dan pendidikan, banyak diproduksi oleh PH lokal.

4. Dunia bisnis media penerbitan, khususnya surat kabar dan majalah, juga mengalami peningkatan khususnya dalam hal kuantitas. Pada tahun 2000, menurut laporan MASINDO, terdapat 358 media penerbitan. Jumlah tersebut terdiri atas 104 surat kabar, 115 tabloid, dan 139 majalah. Hal menarik dalam penerbitan media massa cetak ini adalah semakin beragamnya pelayanan isi yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan segmen khalayak pembacanya. Dengan kata lain, ‘spesialisasi’ telah ditempuh sebagai upaya menembus situasi kompetisi yang semakin ketat.

Dengan perkembangan seperti di atas, baik dalam jumlah maupun jenisnya, mustahil semua media massa menguasai seluruh pasar yang ada. Sebaliknya, kecil sekali kemungkinan hanya satu media massa dapat menguasai seluruh pasar, dalam arti memenuhi segala macam tuntutan pasar, karena tuntutan pasar juga sangat bervariasi.

Kompetisi telah menjadi kata kunci dalam kehidupan media massa saat ini. Keadaannya menjadi semakin kompleks, karena mencakup kompetisi tiga kelompok yaitu: Pertama, antara media cetak baik dari jenis yang sama maupun yang berbeda jenis; Kedua, antara media elektronik baik audio (radio) maupun audio-visual (televisi); serta Ketiga, antara media cetak di satu pihak dengan media elektronik di pihak lain.

Dalam memperebutkan pangsa pasar, kompetisi media massa tidak hanya meliputi aspek isi, penyajian berita atau bentuk liputan lainnya, tetapi juga aspek periklanan. Hal tersebut dipersulit pula oleh perubahan tuntutan pasar (konsumen). Juga perubahan dalam cara, gaya dan strategi kompetisi yang digunakan masing-masing media massa sebagai respons terhadap tuntutan pasar.

Tinjauan pustaka

http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/07/perkembangan-media-massa-dan-media-literasi-di-indonesia/

http://jurnal.budiluhur.ac.id/wp-content/uploads/2007/04/blcom-04-vol2-no2-april20071.pdf

http://www.kejut.com/massmedia

http://id.wikipedia.org/wiki/Media_massa

http://pipmi.tripod.com/artikel_pembangunan_perkembangan_pers_dan_media_massa_nasional.htm

http://duniakreatif.multiply.com/journal/item/38/Menyoal_Komunikasi_Massa_Memahami_Perkembangan_Masyarakat_Indonesia

http://www.beritanet.com/Education/Berita-Jurnalistik/Sejarah-Jurnalisme-Indonesia.html

http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/22/perkembangan-media-massa-dan-media-literasi/